Membuat Text Area

Text area adalah sebuah area yang dibuat dengan menggunakan kode-kode tertentu yang tujuannya untuk menghemat tempat pada sebuah artikel/blog.

Text area atau scroll box bisa sangat-sangat diperlukan ketika kita akan menuliskan kode HTML misalnya (seperti yang saya buat di artikel tentang How to make Threaded Comment in blog) yang rata-rata sangat panjang. Kalau kita tulis tanpa menggunakan scroll box, bisa sangat panjang jadinya.

Atau kita ingin membuat list nama daerah (kalu iseng) yang mungkin isinya banyak sekali, maka scroll box sangat diperlukan.
Oke, berikut langkah-langkahnya :

1. Kode yang digunakan adalah (dari "<div ...... sampai </div>)

<div style="border: 1px solid rgb(153, 153, 153);
overflow: auto;
width: 250px;
height: 100px;
text-align: center; ">
ISI DENGAN APA YANG ANDA INGINKAN
</div>

keterangan :
~warna merah menunjukkan ketebalan dari garis tepi kotak. bisa kalian ganti dengan angka yang lebih besar agar garis tepinya lebih tebal
~warna orange menunjukkan warna dari garis tepi kotak, bisa diganti dengan warna yang lain. Untuk acuan kode warna RGB, bisa dilihat disini.
~warna hijau menunjukkan lebar kotak.
~warna biru menunjukkan tinggi kotak
~warna pink menunjukkan letak text yang ada didalam kotak, selain "center", bisa juga digunakan "left" atau "right".
~warna ungu adalah text yang akan muncul didalam kotak nanti

2. Nantinya hasil dari kode tersebut akan menjadi seperti ini :

ISI DENGAN APA YANG ANDA INGINKAN

3. Jika kodenya saya ganti menjadi :

<div style="border: 5px solid rgb(218, 123, 34);
overflow: auto;
width: 350px;
height: 100px;
text-align: left; ">
<a href="http://rumah-dagip.blogspot.com/" target="_blank">My World Is Yours</a>
</div>

4. Maka hasilnya seperti ini :


5. Jika isi dari kotak ternyata sangat banyak (tidak dapat dimuat dalam 1 halaman oleh kotak yang telah kita tentukan ukurannya tersebut). Maka secara otomatis kotak akan menjadi scroll box. dapat juga diberi nomor disetiap link atau apa saja yang akan menjadi isi dari kotak tersebut. berikut contonya :

<div style="border: 5px solid rgb(218, 123, 34);
overflow: auto;
width: 350px;
height: 100px;
text-align: left; ">
1. alamat blog saya <a href="http://rumah-dagip.blogspot.com/" target="_blank">My World Is Yours</a><br>
2. selain blog saya <br>
a. <a href="http://www.google.com" target="_blank">Google</a><br>
b. <a href="http://www.yahoo.com" target="_blank">Yahoo</a><br>
c. <a href="http://www.msn.com" target="_blank">MSN</a><br>
d. <a href="http://www.facebook.com" target="_blank">Facebook</a><br> 
e. <a href="http://twitter.com" target="_blank">Twitter</a><br>
3. <a href="http://www.profitclicking.com/?r=gBi4iMLZyQtarget="_blank">Profitclicking</a><br>
</div>

6. Maka hasilnya adalah :

1. alamat blog saya My World Is Yours
2. selain blog saya
a. Google
b. Yahoo
c. MSN
d. Facebook
e. Twitter
3. Profitclicking

7. Jika ingin membuat list namun tidak dengan nomor, dengan icon misalnya, maka diperlukan tambahan kode seperti berikut ini :

<style>.list {background: url("https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVmy8JffDao02MjdpvvpM89WUVI4a7otOSS7eTgSBeqsNSHnpI0ONa5tE2zW-GtExJ_RA_Uy2pu3OpeLXalX5Y3dRWp5rUKKoFWuIKi7-SAH8yhUEjAYeVnx15oGKimvxxzcOouWXkOvoy/") no-repeat left center;
border-bottom:1px dotted #ddd;
line-height:1.2em;
padding:3px 0px 0px 20px;
}
</style>
border-bottom:1px dotted #ddd;line-height:1.2em;padding:3px 0px 0px 20px;}</style>
<div style="border: 5px solid rgb(218, 123, 34);
overflow: auto;
width: 350px;
height: 100px;
text-align: left; ">
<div class="list"><a href="http://rumah-dagip.blogspot.com/" target="_blank">My World Is Yours</a><br>
</div><div class="list"><a href="http://www.google.com" target="_blank">Google</a><br></div>
<div class="list"><a href="http://www.yahoo.com" target="_blank">Yahoo</a><br></div>
<div class="list"><a href="http://www.msn.com" target="_blank">MSN</a><br></div>
<div class="list"><a href="http://www.facebook.com" target="_blank">Facebook</a><br></div>
<div class="list"><a href="http://twitter.com" target="_blank">Twitter</a><br></div>
<div class="list"><a href="http://www.profitclicking.com/?r=gBi4iMLZyQtarget="_blank">Profitclicking</a><br></div>
</div>
keterangan
~warna abu-abu adalah kode yang digunakan untuk memberikan icon.
~warna merah pada kode abu-abu merupakan alamat URL dari icon yang akan digunakan, bisa kalian ganti dengan milik kalian sendiri.

8. Maka hasilnya akan seperti ini :

border-bottom:1px dotted #ddd;line-height:1.2em;padding:3px 0px 0px 20px;}

Sekian tutorial yang bisa saya berikan mengenai pembuatan text area/scroll box. Kawan-kawan bisa bereksperiment sendiri dengan kode-kode yang lain. Trik ini bisa diaplikasikan pada artikel maupun widget kawan-kawan. Selamat mencoba.

Source : http://www.agungadhyaksa.com/ & http://www.hermanblog.com/


Tempayan Retak

Kita semua adalah sebuah tempayan retak
Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar. Masing-masingnya bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Ternyata satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, sedangkan tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengahnya. 
Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air kerumah majikannya. Tentu saja, si tempayan yang tidak retak merasa bangga dengan prestasinya karena dapat melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih karena hanya dapat memberikan setengah porsi dari yang seharusnya.
Setelah dua tahun tertekan akan kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada situkang air.
"Saya sungguh malu kepada diri saya sendiri tuan, dan saya ingin mohon maaf kepadamu."
"Kenapa? Kenapa kamu harus malu?" tanya si tukang air
"ya, karena selama dua tahun ini, saya hanya membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa, retakan pada sisi saya ini telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itulah tuan, saya telah membuat anda rugi." jawab tempayan retak dengan sedih.
Si tukang air merasa kasihan kepada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya dia berkata "jika kita kembali kerumah majikan kita besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah disepanjang jalan."
Ketika mereka naik kebukit, sitempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah disepanjang sisi jalan, itu mebuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan dia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor dan kembali tempayan retak meminta maaf kepada si tukang air atas kegagalannya.
Si tukang air berkata kepada tempayan retak "kamu memperhatikan adanya bunga-bunga disepanjang jalan disisimu tapi tidak ada bunga disepanjang jalan disisi tempayan yang tidak retak itu? itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu, dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga disepanjang jalan disisimu, dan setiap hari, jika kita pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih tersebut, selama dua tahun ini aku telah memetik bunga-bungai itu untuk menghiasi meja majikan kita. Tanpa kamu, sebagaimana kamu adanya, majikan kita tidak dapat menghias rumahnya seindah sekarang".


Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. kita semua adalah tempayan retak. namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk menghiasi mejanya. di mata Tuhan yang bijaksana tidak ada yang terbuang percuma. jangan takut akan kekurangan anda, kenalilah kelemahan anda, dan andapun dapat menjadi sarana keindahan tuhan.

File MP3 dapat di download disini

Source gambar : http://fmm.or.id/tempayan-retak/

The Train Window

That day, on the train there was a young man with his father. The young man about 24 years old, old enough of course.

In the train, the young man looked out the train window, and said to his father.
"You see, the trees were running"

Near them was a young couple, both looked at the young man with feel sorry. How not, the young man seemed so childish.

However, as no matter, the young man suddenly spoke again with enthusiasm,
"You see, the cloud seemed to follow us!"

The two young couples looking impatient, and said to the father of the young man.
"Why you did not take your son to the doctor?

The father just smiled and said. "Yes I do, and in fact we have just from the hospital. Son before my was blind since early childhood, and he had to get his eyesight today"

Friend, every human on the planet has their story. Do not immediately to judge someone before we really knew him. Because the truth might surprise us. Always good prejudiced to everyone, because that's what your prophet taught, and that's a good way to live.

Source : http://www.kisahinspirasi.com

Jendela Kereta Api

Hari itu, di kereta api terdapat seorang pemuda bersama ayahnya. Pemuda itu berusia sekitar 24 tahun, sudah cukup dewasa tentu.

Di dalam kereta, pemuda itu memandang keluar jendela kereta, lalu berkata pada Ayahnya.
"Ayah lihat, pohon-pohon itu sedang berlarian"

Didekat mereka ada sepasang anak muda, keduanya melihat pemuda 24 tahun tadi dengan kasihan. Bagaimana tidak, untuk seukuran usianya, kelakuan pemuda itu tampak begitu kekanakan.

Namun seolah tak peduli, si pemuda tadi tiba-tiba berkata lagi dengan antusiasnya,
"Ayah lihatlah, awan itu sepertinya sedang mengikut kita!"

Kedua pasangan muda itu tampak tak sabar, lalu berkata kepada sang Ayah dari pemuda itu.
"Kenapa Anda tidak membawa putra Anda itu ke seorang dokter?

Sang Ayah hanya tersenyum, lalu berkata. "Sudah saya bawa, dan sebenarnya kami ini baru saja dari rumah sakit. Anak saya ini sebelumnya buta semenjak kecil, dan ia baru mendapatkan penglihatannya hari ini"


Sahabat, setiap manusia di planet ini memiliki ceritanya masing-masing. Jangan langsung kita men-judge seseorang sebelum kita benar-benar mengenalnya. Karena kebenaran boleh jadi mengejutkan kita. Selalu berprasangka baik kepada setiap orang, karena itu yang diajarkan nabimu, dan itulah cara yang baik untuk hidup.

Source : http://www.kisahinspirasi.com

SKMM-12/01/2013

1 minggu berlalu, dan data yang bisa saya tambahkan hanya :

1. Fahrizal Emir dan pasangan
2. ahmad nurul fajrih dan pasangan
3. abdul muhid dan pasangan.

Untuk selanjutnya saya harapkan lebih banyak lagi yang mengumpulkan data. Kita tidak hanya bisa mengisi data kita pribadi, data adik, kakak, anak maupun data orang tua kita, bisa kita masukkan menggunakan form yang ada di pengumpul biodata. dengan gitu, lebih cepat data yang terkumpul.

Untuk download update ini, silahkan KLIK DISINI

SKMM-06/01/2013

Ini Update pertama dari Silsilah Keluarga Mbah Munihar. Semoga dengan adanya Update ini, saudara-saudara yang lain dapat segera menyusul mengumpulkan data diri karena sebagian besar data yang saya terima hanya sekedar nama saja.

Klik disini untuk download file silsilah keluarga.
Klik disini untuk download aplikasi genopro.

Cara Menggunakan Aplikasi Genopro

Silsilah keluarga ini saya buat dengan bantuan aplikasi bernama Genopro. Sehingga untuk melihatnya juga perlu menginstal aplikasi ini di laptop/komputer. Untuk mendownload aplikasi ini, silahkan klik disini.
Untuk menginstal aplikasi ini sangat mudah, tinggal mengikuti arahan yang diberikan selama instalasi berjalan. Setelah instalasi selesai, masukkan key aktifasi yang saya sertakan.
Update silsilah keluarga mbah munihar nantinya akan berupa file *.gno dengan nama file SKMM-(tanggal update) yang akan diluncurkan Insyaallah setiap hari minggu sebelum jam 6 sore.
Bagi saudara-saudara yang ingin membantu menambahkan data langsung dari file update yang saya berikan, saya persilahkan. Namun saya sangat berharap file hasil penambahan tersebut segera dikirim kesaya, lengkap dengan list/daftar apa saja yang dirubah/ditambahkan, sehingga nantinya bisa saya sebarkan juga kepada saudara-saudara yang lain.

Langkah menggunakan aplikasi genopro.
1. Instal aplikasi genopro (bila perlu bantuan, dapat menghubungi saya di nomer 085258808275 diluar jam kerja)
2. Download update terbaru Silsilah Kelurga Mbah Munihar.
3. Buka file hasil download (doble klik/enter).
4. Aplikasi genopro akan segera terbuka.
5. Pada silsilah tersebut, Simbol Kotak = laki-laki, Lingkaran = Perempuan, dan ? = Tidak diketahui jenis kelaminnya.
6. Untuk mengetahui detail informasi dari seseorang, klik 2 kali nama/simbol orang yang bersangkutan.
7. Perubahan/Penambahan data bisa dilakukan ketika detail informasi yang bersangkutan sudah terbuka.
8. Aplikasi ini suport bahasa Indonesia, bila setelah saudara instal ternyata bukan bahasa Indonesia, saudara dapat merubahnya dengan mengklik "Language" (tab nomor 3 dari kanan) pada toolbar kemudian pilih "Indonesian/Bahasa Indonesia {ID}"
9. Silsilah ini juga dapat di print dengan menekan "Ctrl+P" kemudian pilih printer yang akan digunakan. Hasil print akan berupa bagan yang terpotong-potong dalam beberapa halaman, bukan menjadi 1 halama kertas.
10. Untuk fasilitas yang lain, dapat saudara pelajari sendiri, agar lebih aman, buat backup file Silsilah Keluarga Mbah Munihar, sehingga bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, file asli tidak hilang.

Saya tunggu partisipasi dari saudara-saudara sekalian.


Klik disini untuk mengunduh aplikasi genopro
Klik disini untuk mendapatkan update terbaru

Pengumpul Biodata

Semoga niatan untuk menjaga tali silaturahmi diberi kemudahan.
Saya dan beberapa saudara yang lain berusaha untuk membuat "Pohon Keluarga Mbah Munihar" dengan harapan tali keluarga tidak putus meski sampai beberapa generasi. Sampai sekarang, saya pribadi hanya memiliki data sampai generasi ketiga (itu pun hanya nama, tidak ada keterangan yang lain). yang ingin melihat silsilah tersebut bisa klik disini.
dalam pembuatan silsilah kelurga ini, saya menggunakan aplikasi genopro (bisa di download disini). sehingga saya harapkan saudara-saudara yang lain juga memiliki aplikasi ini sebagai media untuk membuka dan menambahkan data.
Dibawah ini ada sebuah Form yang saya harapkan bisa Saudara-saudara isi yang nantinya akan saya masukkan ke dalam "Pohon Keluarga Mbah Munihar". Mas, Mbak, Om, Tante, Adek dll bisa mengisi dan mengisikan data saudara yang lain selama itu dapat dijamin kebenarannya. Semoga apa yang saya usahakan ini mendapatkan respon positif dari Saudara-saudara saya yang lainnya.



Klik disini untuk melihat pohon keluarga 3 generasi pertama
Klik disini untuk download aplikasi genopro
Klik disini untuk mendapatkan update terbaru database Pohon Keluarga Mbah Munihar
Klik disini untuk gabung grup Mbah Munihar di facebook

Tanaman transgenik mulai dikenal di Indonesia sejak Kapas Bollgard ditanam di Sulawesi Selatan. Kapas ini direkomendasikan mampu berproduksi lebih 3 ton per ha dan dapat meningkatkan pendapatan petani hingga lima kali lipat. Mungkin dengan alasan ini sehingga Mentan mengeluarkan SK no. 03/Kpts/KB/ 430/1/2002 untuk lanjutkan penanaman Bollgard tahun 2002, yang diikuti oleh optimisme pemerintah melalui Direktorat Tanaman Semusim Ditjen Bina Perkebunan Deptan bahwa tahun 2007 dengan produksi 4 ton per ha pada lahan 500.000 ha di Sulawesi Selatan saja, Indonesia mampu untuk tidak mengimpor kapas lagi. Namun betapapun hebat iklan yang dilakukan oleh Perusahaan pemilik Bollgard, para Birokrat dan para pakar, kenyataan di lapangan membuktikan lain.

Klaim tentang kualitas dan kuantitas produksi rata-rata kapas Bollgard jauh di atas kapas jenis Kanesia, hingga 2 tahun pengembangannya di daerah Sul-Sel belum mencapai hasil optimal sebagaimana digembar-gemborkan selama ini. Dari 4364,2 ha lahan kapas yang ditanam, ternyata total produksi yang dicapai 4.312,131 kg saja, ini artinya hanya 0,989 ton per ha padahal seharusnya 17,456,8 sebagaimana sebelumnya diklaim untuk kapas transgenik bisa menghasilkan kapas serat sebesar 4 ton per ha. Pada aspek sosial; dari 4438 petani penanam Bollgard, ada 76 % petani tidak mampu mengembalikan kredit (satu tahun tanaman transgenik, siapa yang untung.

Madhya Pradesh merupakan salah satu negara bagian dan dikenal sebagai “the cotton-growing belt” di India adalah saksi mata dari kegagalan kapas transgenik Bt-cotton karena sangat bermasalah terhadap hama dan penyakit termasuk Helicoverpa armigera . Di distrik Maharashtra saja sekitar 30.000 ha dengan sempurna tidak bisa panen, dan pemerintah setempat menuntut kompensasi sebesar 5 milyar rupee. Keberatan petani penanam jagung RR (round-up ready) di distrik Udaipur, India yang hanya mendapatkan rata-rata hasil 17,5 kwintal per ha dari yang dijanjikan bisa mencapai 125-225 kwintal per ha (harga benih lokal Desi 5 rupee / kg ; jagung RR 55 rupee / kg), sedangkan produksi jagung lokal 15 kwintal/ha, hanya 250 kg lebih rendah dari jagung RR.

Pada gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa Bollgard di Sul-sel tidak sukses setelah 2 tahun penanamannya, sama yang terjadi di India. Adakah yang salah ? dan ada apa dengan tanaman transgenik ?.


CONVENTIONAL versus GENETIC ENGINEERING BREEDING

Pemuliaan tanaman secara konvensional merupakan persilangan allel dari gene yang sama dipadukan dalam khromosomal sebagai hasil dari evolusi. Teknik konvensional merupakan teknologi murah-meriah dan di lapangan kehadirannya relatif stabil dibanding dengan teknik rekayasa genetik (GE). Kultivar tanaman hasil GE relatif tidak stabil dibanding dengan kultivar tanaman non transgenik (van der Krol et al., 1998; Doerfler, 1997; Traavik, 1998 dan Bergelson et al., 1999). Ketidakstabilan tanaman transgenik di lapangan karena beberapa kenyataan :

1. Teknik recombinant DNA (rDNA), menyisipkan satu gene yang diinginkan dengan menggunakan gen gun atau teknik lainnya seperti menggunakan Ti-plasmid, chemopora-tion, electroporation dll, ke dalam khromosom tanaman yang telah ada. Umumnya material genetik berasal dari organisme dimana organisme ini tidak pernah bersilangan di alam.

2. Penyisipan material genetik tidak dapat diprediksi dalam banyak parameter; jumlah DNA yang di “transgene” kan, lokasi mereka (dalam khromosom, khloroplast dan mitokhondria), ketepatan posisi (dimana dankhromosom yang mana), struktur dan stabilitas fungsional mereka di alam.

3. Tempat penyisipan gen bervariasi dan konsekuensinya adalah berpotensi negatif dan sulit diprediksi (dikenal sebagai insertional mutagenesis). Tempat penyisipan gen dapat mempengaruhi ekspresi dari transgene yang disisipkan termasuk ekspresi gen-gen inang yakni gen-gen di dalam organisme resipien) dan dikenal sebagai position effect.











Supaya Minuman Soda Tetap Berdesis

Saya biasa membeli minuman soda dalam botol kemasan dua liter. Tapi, dengan botol sebesar itu, masalahanya adalah menjaga agar minuman yang tersisa tetap berdesis atau "menyengat lidah". Selain menutupnya rapat-rapat, apa lagi yang bisa saya lakukan agar minuman bersoda itu tidak berubah menjadi sirup biasa? Bagaimana dengan alat yang dapat dipasang dimulut botol kemudian kita memompanya? Betulkah manfaatnya?

Tujuan kita adalah mengusahakan agar karbon dioksida dalam minuman botol tetap sebanyak mungkin karena itulah yang membuat cairan tetap mengeluarkan gelembung. Mengusahakan agar tutup botol tetap rapat jelas merupakan cara pertahanan yang utama. Tapi, jujur saja, itu tidak membantu banyak.
Di pasaran, sudah ada alat ayng katanya dapat membantu kita, termasuk pompa yang kita sebutkan tadi. Pada hakikatnya, alat itu miniatur sebuah pompa sepeda yang dapat dipasang pada mulut botol, kemudian kita memompakan udara untuk memampatkan gas dalam botol. Kedengarannya boleh juga. Tapi sayang, ini sebuah tipuan yang betul-betul konyol. Yang diperbuatnya hanyalah menghadirkan kesan seolah-olah soda di dalam botol menjadi lebih hidup. Mari kita lihat alasannya.
Soda berdesis ketika gas karbon dioksida yang terlarut keluar dari cairan dalam wujud gelembung-gelembung. Gas ini ingin sekali keluar dari cairan karena orang-orang pabrik telah memompakan karbon dioksida lebih banyak daripada yang biasanya dapat larut dalam kondisi atmosfer. Segera setelah kita membuka botol, sebagian besar kelebihan ges tersebut menyeruak,  meloloskan diri ke udara bebas, dan tidak ada yang bisa kita perbuat untuk menahanya. Jadi, yang dapat kita perbuat adalah mempertahankan gas itu selama mungkin dalam cairan.
Ada tiga hal yang menentukan seberapa banyak suatu gas dapat tetap terlarut dalam sebuah zat cair: reaksi kimia gas termaksud, tekanan, dan temperatur.

  • Reaksi : Gas-gas yang bereaksi secara kimia dengan air pada umumnya akan lebih mudah larut dalam daripada gas-gas yang tidak aktif, yang molekul-molekulnya hanya bisa berkeliaran tanpa tujuan dalam air. Karbon dioksida adalah salah satu gas ayng bereaksi dengan air, hasilnya adalah asam karbonat, yang memberikan rasa agak tajam yang khas pada soda, bir dan anggur bersoda (sparkling wine).
  • Tekanan : Semakin tinggi tekanan gas diatas zat cair, semakin banyak gas akan terdesak ke dalam zat cair.
  • Temperatur : Semakin tinggi temperatur, semakin sedikit gas yang terlarut.
Oleh sebab itu, agar karbon dioksida yang terlarut tetap sebanyak mungkin, kita harus menjaga agar tekanan gas itu tetap tinggi dan temperaturnya serendah mungkin; kita hanya perlu mengusahakan agar minuman tetap dingin sebelum membuka botolnya dan memasukkannya kembali kedalam lemari pendingin sesegera mungkin.
Tapi, tekanan menghadirkan persoalan lain. Di pabrik pengemasan, molekul-molekul karbon dioksida dipaksa masuk kedalam botol seperti menjejalkan sejumlah orang yang takut dengan ruang tertutup ke dalam sebuah lift. Begitu tutup kita buka, wuuusshhh!!! semua bergegas kabur tanpa basa-basi, dan sesungguhnyalah, sebagian besar karbon dioksida sudah tersenyum  lega di luar botol pada bukaan yang pertama.
Tapi, betulkah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk mengatasinya? Tidak dapatkah kita memulihkan tekanan dalam botol minuman, atau lebih tepat bagaimana supaya minuman kita tetap berdesis sewaktu kita tuang?
Mari kita coba alat yang ditawarkan di beberapa toko. Kita tutupkan rapat-rapat pada mulut botol, kemudian kata mereka, pompa saja beberapa kali, cukup sudah. Ketika berikutnya kita membuka botol, kita akan disuguhi pertunjukkan palinmg menakjubkan : wuuss!! Bunyinya bahakan lebih keras dari pertama kali kita membukanya. Seolah-olah minuman kita baru dikirim dari pabrik.
Tapi, coba tebak yang terjadi sesungguhnya. Kalaupun masih ada, molekul karbon dioksida dalam minuman itu tinggal sedikit. Masalahnya, walaupun isi botol kita air putih biasa, kemudian kita pompa, bunyi wuuss!! yang terjadi mungkin sama serunya. Jadi, alat canggih yang mahal itu hampir tidak ada gunanya.
Yang kita pompakan kedalam botol adalah udara, bukan karbon dioksida. Memang, karbon dioksida ada dalam udara, namun jumlahnya hanya satu per tiga ribu molekul keseluruhan. Jika kita memompakan karbon dioksida, itu cerita lain, tetapi memompakan nitrogen dan oksigen (komponen utama udara bebas) jelas konyol sekali.
Sebagai kesimpulan: Usahakan agar tutup botol tetap rapat dan jaga agar suhunya tidak turun. Yang paling penting adalah mengusahakan botol tertutup rapat selama di luar lemari pendingin.
Bagaimanapun, jangan menaruh harapan terlalu tinggi. Kita dapat memperlambat pelarian karbon dioksida, tetapi kita tidak dapat menghentikannya.
Dan ada lagi. Jangan pernah mengocok botol minuman bersoda anda, itu hanya membuat gas kesayangan anda kabur lebih cepat.

Api

Nyala api pada kompor gas saya berwarna biru, tetapi nyala lilin di meja makan berwarna kuning. Apa yang menyebabkan kedua nyala itu berbeda?
Ini menyangkut masalah berapa banyak oksigen tersedia untuk menyalakan bahan bakar. Oksigen yang banyak menyebabkan berwarna biru, sedangkan oksigen yang terbatas menyebabkan berwarna kuning. Mari kita perhatikan nyala kuning terlebih dahulu.
Sebatang lilin sesungguhnya sebuah mesin pembuat nyala yang kompleks. Pertama, sebagian lilin harus meleleh, kemudian lilin cair tersebut harus bisa memanjat sumbu, terus harus bisa menguap menjadi gas, dan baru setelah itu dapat terbakar --bereaksi dengan oksigen dalam udara untuk membentuk karbon dioksida dan uap air (lihat  : Ketika Kita embakar Sebatang Lilin). Ini proses yang sangat tidak efisien.
Supaya pembakaran itu bisa efisein 100%, lilin harus bisa diubah seluruhnya menjadi karbon dioksida dan uap air yang tidak kelihatan. Akan tetapi nyala lilin tidak bisa mendapatkan oksigen yang diperlukan kalau hanya mengambil dari udara disekitarnya. Udara disekitar lilin, yang sebetulnya kaya dengan oksigen, ternyata tidak sanggup mengalir cukup cepat untuk mengimbangi semua parafin ayng melelh dan menguap, yang siap untuk dibakar.
Sementara itu, di bawah pengaruh panas, sebagian parafin yang tidak terbakar terurai, antara lain menjadi partikel-partikel karbon sangat kecil. Partikel-partikel ini, karena panas dari pembakaran, menjadi berpendar, membara dengan cahaya berwarna kuning benderang. Maka itulah sebabnya nyala lilin berwarna kuning. Ketika partikel-partikel karbon berpendar mencapai bagian puncak nyala, hampir semuanya mendapatkan oksigen yang memadai untuk terbakar juga.
Hal yang sama juga terjadi pada lampu minyak tanah, api bakaran kertas, api unggun, kebakaran hutan, dan kebakaran rumah: semuanya memiliki nyala berwarna kuning. Sebabnya hanya karena udara tidak dapat mengalir cukup cepat untuk membuat bahan bakar terbakar seluruhnya menjadi karbon dioksida dan air.
Di pihak lain, kompor dan panggangan gas memang menggunakan bahan bakar berwujud gas -- jadi tidak memerlukan proses penguapan. Cara ini memudahkan bahan bakar bercampur dengan udara sebanyak-banyaknya, sehingga reaksi pembakaran dapat berlangsung dengan cepat. Karena bahan bakar disini terbakar hampir seluruhnya, kita mendapatkan nyala yang jauh lebih panas. Nyala apinya juga jernih dan transparan karena tidak dikotori oleh karbon.
Ingin lebih panas lagi? Mengapa tidak mencampurkan oksigen murni, sebagai pengganti udara, dengan bahan bakar gas? bagaimanapun, kandungan oksigen dalam udara hanya 20%. Sebuah glassblower menggunakan penyembur api yang mencampur oksigen dengan gas alam (metana) untuk menghasilkan nyala api dengan temperatur sekitar 1600 derajat celcius. Penyembur api tukang las, yang juga disebut Oxyacetylene torch, mencampur oksigen dengan gas asetilena, dapat menghasilkan nyala dengan temperatur sekitar 3300 derajat celcius. Nyala api tersebut biru. Namun bisa juga berwarna kuning apabila setelannya kurang pas sehingga bahan bakar tidak mendapatkan oksigen yang memadai untuk pembakaran sempurna. Nyala kuning tersebut juga menghasilkan jelaga.

Ketika Kita Membakar Sebatang Lilin...

Ketika sebatang lilin dibakar, kemana lilinnya pergi?
Kecuali sedikit lelehan dibagian bawahnya, yang mungkin juga menetesi taplak meja, lilin tersebut pergi ketempat yang sama seperti yang dituju oleh bensin dan minyak ketika dibakar: yakni udara. Tentu saja dalam wujud yang secara kimima berbeda.
Lilin biasanya dibuat dari parafin, yakni campuran hidrokarbon, bahan yang kita jumpai dalam minyak bumi. Seperti tersirat dalam namanya, molekul-molekul hidrokarbon hanya terdiri atas atom-atom hidrogen dan ataom-atom karbon. Ketika bahan ini terbakar, mereka bereaksi dengan oksigen dari udara. Karbon dan oksigen menjadi karbondioksida, sedangkan oksigen dan hidrogen menjadi air. (Mungkin tidak harus semuanya). Kedua produk ini berbentuk gas pada temperatur bakar, jadi semua terbang keudara.
Banyak hidrokarbon lain yang kita bakar: metana dalam gas alam, propana dalam gas elpiji, butana dalam gas untuk pemantik rokok, kerosin dalam kompor atau lampu minyak tanah, dan bensin dalam kendaraan bermotor. Semuanya terbakar menjadi karbon dioksida dan uap air, yang kelihatannya menghilang selama proses tersebut. kertas, kayu, dan batu bara mengandung beberapa bahan lain yang tidak terbakar, maka yang dihasilkan ketika dibakar adalah karbon dioksida, air dan abu.

MAU TAHU LEBIH BANYAK?
Ketika oksigen yang tersedia tidak cukup untuk membentuk karbon dioksida yang utuh, seperti dalam mesin mobil, sebagai ganti kita juga mendapatkan karbon monoksida.

Command And Conquer : General

Finally, I'am finish to upload this game. :) "Command and Conquer : General" one of strategy genre game, I promise you will become "general" (just if you can...) :) try it.
More info from the site owner:

Synopsis :
Command & Conquer™ Generals: puts your trigger finger on the pulse of modern warfare. Become a powerful General to control massive armies of bleeding-edge military weaponry across a globe teetering on the brink of Armageddon. Command one of three unique sides, each with customizable high-tech arsenals ready to deliver unprecedented firepower on land or in the skies. Annihilate the opposition in the 23-mission singleplayer campaign or dish out the damage in global multiplayer mayhem. Prepare your forces, General… it’s time to engage in the next generation of real-time strategy – Command & Conquer Generals
Key Feature :
  • Become a Powerful General - Rack up victories in each campaign and upgrade your forces. As you acquire skill points, more weapons and tactics become available, such as upgraded veterancy and powerful super weapons.
  • The Bleeding-Edge of Modern Warfare - Unleash your fury using modern and nearfuture arsenals on the bleeding-edge of technology. Wage real-time war in more ways than ever before, with thrilling air-to-air duels, urban combat, and an enhanced veterancy model.
  • Three Ways to Dominate - Command one of three unique armies inspired by real-world ideologies: the high-tech US force, the swarming Chinese war machine, or the resourceful Global Liberation Army.
  • A State-of-the-Art Battleground - Experience Command & Conquer™ in unprecedented detail and battle it out in full 3D on urban cityscapes, rugged deserts, frozen wastelands, and more. Real-time strategy never looked so sharp.
  • Maximum Destructive Capability - Assemble your war machine with top-secret Aurora Strike Fighters, massive Paladin Battle Tanks, Angry Mobs, skilled Hackers and over 60 other distinct units. Bring death from above with your side’s exclusive super weapon – the US Air Fuel Bomb, the Chinese Nuclear Missile, or the GLA Scud Storm.
  • More Multiplayer Mayhem - Wreak havoc online cooperatively with eight of your friends, or battle head-to-head for global domination against a multitude of players.
Zero Hour Expansion :
The hour is now. Prepare to unleash the absolute latest in modern weapons technology against the world’s most powerful Generals in Command & Conquer Generals Zero Hour. In the next era of military strategy and might, you’ll need to command a more technologically advanced arsenal to defeat new, more powerful enemies. The first expansion pack for the critically acclaimed Command & Conquer Generals challenges players to square off against the world’s most elite commanders for battlefield domination. Even the most experienced C&C Generals veteran must learn new strategies and tactics to take full advantage of—and learn to defend against—the next generation of the world’s most lethal weapons. With new units, structures, and upgrades, as well as the all-new Generals Challenge Mode, Zero Hour delivers all the firepower you’ll need in your quest to become the ultimate modern warfare General.

Download :
Command And Conquer : General Part 1
Command And Conquer : General Part 2
Command And Conquer : General Part 3
Command And Conquer : General Part 4
Command And Conquer : General Part 5
Command And Conquer : General Part 6
Command And Conquer : General Part 7
Command And Conquer : General Part 8
Command And Conquer : General Part 9
Command And Conquer : General Part 10
Command And Conquer : General Part 11
Command And Conquer : General Part 12
Command And Conquer : General Part 13
Command And Conquer : General Part 14
Command And Conquer : General Part 15
Command And Conquer : General Part 16
Command And Conquer : General Part 17
Command And Conquer : General Part 18
Command And Conquer : General Part 19
Command And Conquer : General Part 20
Command And Conquer : General Part 21
Command And Conquer : General Part 22
Command And Conquer : General Part 23

To accelerate your download progress and to join the file into 1 rar file, you need IDM (to accelerate) and HjSplit (to join file). You can download both of them in "importan software to surf internet"

Make Widget show only in home page or post page

This time I will share some tutorial about blogging, How to make widget only show in Home Page or Post. This trick very useful to make loading page faster also make our blog template more elegant.
The concept to make widget only show in home page or post page, just need to put a little code like this bellow in your template or widget HTML. Check this one :

1. If you need to show the widget only in homepage, you need put this code between your widget code :
<b:if cond='data:blog.url == data:blog.homepageUrl'>
“Your widget code here”
</b:if>
2. And if you need to show your widget only in post page, you need put this code :
<b:if cond='data:blog.pageType == &quot;item&quot;'>
“Your widget code here”
</b:if>
To make you more understand about this tutorial, this is the application in tamplate HTML. Login into your blogger account ==> edit HTML ==> Expand Template Widget. Try to fine some code like this <b:widget id=
This bellow the complete one (example)
<b:widget id='HTML14' locked='false' title='Artikel Terkait' type='HTML'>
<b:includable id='main'>
<b:if cond='data:blog.url == data:blog.homepageUrl'>
<!-- only display title if it's non-empty -->
<b:if cond='data:title != &quot;&quot;'>
<h2 class='title'><data:title/></h2>
</b:if>
<div class='widget-content'>
<data:content/>
</div>
<b:include name='quickedit'/>
</b:if>
</b:includable>
</b:widget>
The red code is code that you must put, in this case, this widget will be displayed only in homepage. If you need to make it display in post page, just replace the red code with code that I give in above. If you don’t wont to edit via template HTML, you can edit or add this code via layout. Just open your widget HTML code, and put which one code you need. Just easy, right???

How to make Threaded Comment in blog

There are several things that can be support the appearance of your blog, this time I will tell one of them. Its name "Threaded Comment. Threaded Comment is comment form where the reply comments would be located below the main comments.
With this facility, my friends no longer need to moderate comments with reason to facilitate reply to these comments. As a note, by installing a Threaded Comment on your blog, the emoticon that you put in your blog will not appear in the comment box. For my friends who interested in making Threaded Comment, please follow the tutorial.

A. Without edited HTML

1. Log in into your blogger account.
2. Back up your template
3. and then make your template into default template (from google)
NOTES :
This way can make all of your feature like widget, breadcrumb, related post, etc will gone. So, if you already installing widget and other, you can follow this tutorial below.

B.

1. Log in into your blogger account.
2. Back up your template
3. Click "expand widget template"
4. Take this code "BEFORE" ]]></b:skin>
/*----------------------------------------------------
{--------} Comment {--------}
----------------------------------------------------*/

#comments h4 {
font-size: 18px;
font-weight: normal;
margin: 20px 0;
}

.cm_wrap {
clear: both;
margin-bottom: 10px;
float: right;
width: 100%;
}

.cm_head {
margin: 0;
width:60px;
float: left;
}

.cm_avatar {
margin: 0;
vertical-align: middle;
outline: 1px solid #fff;
border: 1px solid #ddd;
padding: 3px;
background-image: url(http://img846.imageshack.us/img846/7357/unled1oww.jpg);
background-position:center;
background-repeat:no-repeat;
width: 35px;
height: 35px;
}

.cm_avatar_a {
margin: 0;
vertical-align: middle;
border: 1px solid #ddd;
padding: 3px;
background:#c6e5f7;
background-position:center;
background-repeat:no-repeat;
width: 35px;
height: 35px;
}

.cm_reply {
padding-top: 5px;
}

.cm_reply a {
display: inline-block;
margin: 0;
padding: 1px 6px;
border: 1px solid #C4C4C4;
border-top-color: #E4E4E4;
border-left-color: #E4E4E4;
color: #424242 !important;
text-align: center;
text-shadow: 0 -1px 0 white;
text-decoration: none;
-webkit-border-radius: 2px;
-moz-border-radius: 2px;
border-radius: 2px;
background: #EDEDED;
background: -webkit-gradient( linear, left top, left bottom, color-stop(.2, white), color-stop(1, #E5E5E5) );
background: -moz-linear-gradient( center top, white 20%, #E5E5E5 100% );
font: 11px/18px sans-serif;
}

.cm_reply a:hover {
text-decoration: none !important;;
background: #ccc;;
background: -webkit-gradient(linear,left top,left bottom,color-stop(.2, #eeeeee),color-stop(1, #cccccc));;
background: -moz-linear-gradient(center top,#eeeeee 20%,#cccccc 100%);;
}

.cm_entry {
padding: 16px 16px 0 16px;
background: #F7F7F7;
outline: 1px solid #fff;
border: 1px solid #ddd;
overflow: hidden;
}
.cm_entry_a {
padding: 16px 16px 0 16px;
background: #F7F7F7;
outline: 1px solid #fff;
border: 1px solid #ddd;
overflow: hidden;
}

.cm_arrow {
display: block;
width: 9px;
height: 18px;
background: url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTdDTkVh3qZX_OEgo7smJnW-EPaht_HVEvvF-d5ufEZ_3BpG8o66ZpKNx6ocn5O4bOUziWh1ElJTl1-8vbkiHKoeBoLK-ia9H2ajWsCftJrdHX9ulLSygUDi2cd_MlPtgzQvR-5VqYQt0/s1600/comment-arrow.gif) no-repeat;
position: absolute;
margin-left: -25px;
}

.cm_info {
margin-bottom: 5px;
border: thin solid #E6E6E6;
background-color: #F4F4F4;
padding: 5px;
}
.cm_info_a {
margin-bottom: 5px;
border: thin solid #E6E6E6;
background-color: #dff0fa;
padding: 5px;
}


.cm_name {
font-size: 14px;
color: #666666 !important;
text-decoration:none;
font-weight: bold;
float: left;

}
.cm_name_a {
font-family:"Francois One";
font-size: 14px;
color: #666666 !important;
text-decoration:none;
font-weight: 250;
float: left;

}

.cm_date {
font-size: 10px;
color: #999;
text-decoration:none;
float: right;

}
.cm_date_a {
font-family:"Francois One";
font-size: 10px;
color: #2D5E7B;
text-decoration:none;
float: right;
padding-top:5px;

}
.cm_entry p {
padding: 5px;
clear: both;
border: thin solid #E6E6E6;
background-color: #F4F4F4;
font-size: 13px;
color: #333;
word-wrap:break-word;
}
.cm_entry_a p {
padding: 5px;
clear: both;
border: thin solid #E6E6E6;
background-color: #dff0fa;
font-size: 13px;
color: #333;
word-wrap:break-word;
}

.cm_pagenavi {
font-size: 10px;
text-transform: uppercase;
color: #666;
text-shadow: 1px 1px white;
font-weight: bold;
}

.cm_pagenavi a {
color: #666;
text-decoration: none;
padding:10px;
}

.cm_pagenavi a:hover {
text-decoration: underline
}

.cm_pagenavi span {
color: #888;
background: white;
padding: 4px;
border: 1px solid #E0E0E0;
}

5. Take this code "BEFORE" </body>
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
var _0x7bf4=["\x32\x20\x78\x3D\x31\x72\x2E\x31\x6E\x2E\x4A\x3B\x32\x20\x46\x3D\x77\x2E\x79\x28\x27\x31\x6D\x27\x29\x3B\x32\x20\x6D\x3D\x46\x2E\x75\x3B\x32\x20\x70\x3D\x5B\x5D\x3B\x32\x20\x37\x3D\x5B\x5D\x3B\x32\x20\x64\x3D\x5B\x5D\x3B\x32\x20\x6E\x3D\x30\x3B\x32\x20\x49\x3D\x27\x27\x3B\x32\x20\x4B\x3D\x27\x27\x3B\x32\x20\x45\x3D\x27\x27\x3B\x32\x20\x69\x3D\x30\x3B\x32\x20\x6A\x3D\x30\x3B\x32\x20\x6B\x3D\x30\x3B\x32\x20\x68\x3D\x30\x3B\x32\x20\x62\x3D\x27\x27\x3B\x32\x20\x42\x3D\x22\x22\x3B\x32\x20\x71\x3D\x22\x22\x3B\x31\x73\x20\x31\x31\x28\x29\x7B\x32\x20\x56\x3D\x2D\x31\x3B\x38\x28\x5A\x2E\x31\x79\x3D\x3D\x27\x31\x7A\x20\x31\x76\x20\x31\x75\x27\x29\x7B\x32\x20\x31\x65\x3D\x5A\x2E\x31\x77\x3B\x32\x20\x31\x30\x3D\x31\x78\x20\x31\x32\x28\x22\x31\x74\x20\x28\x5B\x30\x2D\x39\x5D\x7B\x31\x2C\x7D\x5B\x5C\x2E\x30\x2D\x39\x5D\x7B\x30\x2C\x7D\x29\x22\x29\x3B\x38\x28\x31\x30\x2E\x31\x41\x28\x31\x65\x29\x21\x3D\x31\x70\x29\x56\x3D\x31\x71\x28\x31\x32\x2E\x24\x31\x29\x7D\x31\x6F\x20\x56\x7D\x32\x20\x57\x3D\x31\x31\x28\x29\x3B\x38\x28\x57\x3D\x3D\x2D\x31\x7C\x7C\x57\x3E\x3D\x39\x29\x7B\x31\x34\x28\x6D\x2E\x66\x28\x27\x4C\x3D\x22\x63\x27\x29\x21\x3D\x2D\x31\x29\x7B\x69\x3D\x6D\x2E\x66\x28\x27\x4C\x3D\x22\x63\x27\x29\x3B\x6D\x3D\x6D\x2E\x65\x28\x69\x2B\x34\x29\x3B\x69\x3D\x6D\x2E\x66\x28\x27\x22\x27\x29\x3B\x70\x5B\x6E\x5D\x3D\x6D\x2E\x65\x28\x30\x2C\x69\x29\x3B\x6D\x3D\x6D\x2E\x65\x28\x69\x29\x3B\x37\x5B\x6E\x5D\x3D\x77\x2E\x79\x28\x70\x5B\x6E\x5D\x29\x2E\x75\x3B\x64\x5B\x6E\x5D\x3D\x30\x3B\x6E\x2B\x2B\x7D\x76\x28\x69\x3D\x30\x3B\x69\x3C\x6E\x2D\x31\x3B\x69\x2B\x2B\x29\x7B\x76\x28\x6A\x3D\x69\x2B\x31\x3B\x6A\x3C\x6E\x3B\x6A\x2B\x2B\x29\x7B\x38\x28\x37\x5B\x6A\x5D\x2E\x66\x28\x70\x5B\x69\x5D\x29\x21\x3D\x2D\x31\x29\x7B\x49\x3D\x70\x5B\x6A\x5D\x3B\x4B\x3D\x37\x5B\x6A\x5D\x3B\x64\x5B\x6A\x5D\x3D\x64\x5B\x69\x5D\x2B\x31\x3B\x45\x3D\x64\x5B\x6A\x5D\x3B\x76\x28\x68\x3D\x69\x2B\x31\x3B\x68\x3C\x6A\x3B\x68\x2B\x2B\x29\x7B\x38\x28\x64\x5B\x68\x5D\x3C\x45\x29\x7B\x31\x37\x7D\x7D\x76\x28\x6B\x3D\x6A\x3B\x6B\x3E\x68\x3B\x6B\x3D\x6B\x2D\x31\x29\x7B\x70\x5B\x6B\x5D\x3D\x70\x5B\x6B\x2D\x31\x5D\x3B\x37\x5B\x6B\x5D\x3D\x37\x5B\x6B\x2D\x31\x5D\x3B\x64\x5B\x6B\x5D\x3D\x64\x5B\x6B\x2D\x31\x5D\x7D\x70\x5B\x68\x5D\x3D\x49\x3B\x37\x5B\x68\x5D\x3D\x4B\x3B\x64\x5B\x68\x5D\x3D\x45\x7D\x7D\x7D\x76\x28\x69\x3D\x30\x3B\x69\x3C\x6E\x3B\x69\x2B\x2B\x29\x7B\x6A\x3D\x37\x5B\x69\x5D\x2E\x66\x28\x27\x40\x3C\x61\x20\x4A\x3D\x22\x23\x63\x27\x29\x3B\x38\x28\x6A\x21\x3D\x2D\x31\x29\x7B\x42\x3D\x37\x5B\x69\x5D\x2E\x65\x28\x30\x2C\x6A\x29\x3B\x71\x3D\x37\x5B\x69\x5D\x2E\x65\x28\x6A\x2B\x31\x29\x3B\x6A\x3D\x71\x2E\x66\x28\x27\x3C\x2F\x61\x3E\x27\x29\x3B\x71\x3D\x71\x2E\x65\x28\x6A\x2B\x34\x29\x3B\x37\x5B\x69\x5D\x3D\x42\x2B\x71\x7D\x6A\x3D\x37\x5B\x69\x5D\x2E\x66\x28\x27\x50\x3D\x22\x59\x22\x27\x29\x3B\x38\x28\x6A\x21\x3D\x2D\x31\x29\x7B\x42\x3D\x37\x5B\x69\x5D\x2E\x65\x28\x30\x2C\x6A\x29\x3B\x71\x3D\x37\x5B\x69\x5D\x2E\x65\x28\x6A\x29\x3B\x38\x28\x64\x5B\x69\x5D\x3E\x36\x29\x64\x5B\x69\x5D\x3D\x36\x3B\x37\x5B\x69\x5D\x3D\x42\x2B\x27\x74\x3D\x22\x31\x35\x3A\x27\x2B\x28\x31\x39\x2D\x64\x5B\x69\x5D\x2A\x35\x29\x2B\x27\x25\x22\x20\x27\x2B\x71\x7D\x62\x2B\x3D\x37\x5B\x69\x5D\x7D\x62\x2B\x3D\x27\x3C\x67\x20\x50\x3D\x22\x31\x66\x22\x3E\x3C\x2F\x67\x3E\x27\x3B\x46\x2E\x75\x3D\x62\x3B\x46\x2E\x74\x2E\x51\x3D\x27\x31\x62\x27\x3B\x32\x20\x4D\x3D\x77\x2E\x79\x28\x27\x31\x61\x27\x29\x2E\x75\x3B\x32\x20\x6F\x3D\x4F\x28\x4D\x29\x3B\x38\x28\x6F\x3E\x72\x29\x7B\x62\x3D\x27\x3C\x67\x20\x74\x3D\x22\x47\x3A\x31\x63\x22\x3E\x31\x64\x20\x27\x3B\x32\x20\x48\x3D\x28\x6F\x2D\x6F\x25\x72\x29\x2F\x72\x2B\x31\x3B\x32\x20\x73\x3D\x27\x27\x3B\x32\x20\x6C\x3D\x31\x3B\x69\x3D\x78\x2E\x66\x28\x27\x2E\x31\x6C\x27\x29\x3B\x38\x28\x69\x21\x3D\x2D\x31\x29\x7B\x73\x3D\x78\x2E\x65\x28\x30\x2C\x69\x2B\x35\x29\x7D\x7A\x7B\x73\x3D\x78\x7D\x69\x3D\x73\x2E\x66\x28\x27\x23\x44\x27\x29\x3B\x38\x28\x69\x21\x3D\x2D\x31\x29\x7B\x73\x3D\x73\x2E\x65\x28\x30\x2C\x69\x29\x7D\x69\x3D\x78\x2E\x66\x28\x27\x3F\x53\x3D\x27\x29\x3B\x38\x28\x69\x3D\x3D\x2D\x31\x29\x7B\x6C\x3D\x31\x7D\x7A\x7B\x6C\x3D\x4F\x28\x78\x2E\x65\x28\x69\x2B\x31\x33\x29\x29\x7D\x76\x28\x69\x3D\x31\x3B\x69\x3C\x3D\x48\x3B\x69\x2B\x2B\x29\x7B\x38\x28\x69\x3D\x3D\x6C\x29\x7B\x62\x2B\x3D\x27\x3C\x55\x3E\x27\x2B\x69\x2B\x27\x3C\x2F\x55\x3E\x27\x7D\x7A\x7B\x62\x2B\x3D\x27\x3C\x61\x20\x4A\x3D\x22\x27\x2B\x73\x2B\x27\x3F\x53\x3D\x27\x2B\x69\x2B\x27\x23\x44\x22\x3E\x27\x2B\x69\x2B\x27\x3C\x2F\x61\x3E\x27\x7D\x7D\x38\x28\x6C\x2A\x72\x3C\x3D\x6F\x29\x7B\x62\x2B\x3D\x27\x3C\x2F\x67\x3E\x3C\x67\x20\x74\x3D\x22\x47\x3A\x54\x22\x3E\x27\x2B\x28\x28\x28\x6C\x2D\x31\x29\x2A\x72\x29\x2B\x31\x29\x2B\x27\x20\x2D\x20\x27\x2B\x28\x6C\x2A\x72\x29\x2B\x27\x20\x52\x20\x27\x2B\x6F\x2B\x27\x20\x44\x3C\x2F\x67\x3E\x27\x7D\x7A\x7B\x62\x2B\x3D\x27\x3C\x2F\x67\x3E\x3C\x67\x20\x74\x3D\x22\x47\x3A\x54\x22\x3E\x27\x2B\x28\x28\x28\x6C\x2D\x31\x29\x2A\x72\x29\x2B\x31\x29\x2B\x27\x20\x2D\x20\x27\x2B\x6F\x2B\x27\x20\x52\x20\x27\x2B\x6F\x2B\x27\x20\x44\x3C\x2F\x67\x3E\x27\x7D\x32\x20\x43\x3D\x77\x2E\x79\x28\x27\x31\x69\x27\x29\x3B\x43\x2E\x75\x3D\x62\x3B\x43\x3D\x77\x2E\x79\x28\x27\x31\x68\x27\x29\x3B\x43\x2E\x75\x3D\x62\x3B\x38\x28\x6C\x3C\x48\x29\x7B\x62\x3D\x27\x3C\x74\x20\x31\x67\x3D\x22\x31\x6B\x2F\x31\x6A\x22\x3E\x2E\x58\x20\x7B\x51\x3A\x20\x31\x38\x7D\x3C\x2F\x74\x3E\x27\x3B\x32\x20\x4E\x3D\x77\x2E\x79\x28\x27\x31\x36\x27\x29\x3B\x4E\x2E\x75\x3D\x62\x7D\x7D\x7D\x7A\x7B\x31\x34\x28\x6D\x2E\x66\x28\x27\x4C\x3D\x63\x27\x29\x21\x3D\x2D\x31\x29\x7B\x69\x3D\x6D\x2E\x66\x28\x27\x4C\x3D\x63\x27\x29\x3B\x6D\x3D\x6D\x2E\x65\x28\x69\x2B\x33\x29\x3B\x69\x3D\x6D\x2E\x66\x28\x27\x3E\x27\x29\x3B\x70\x5B\x6E\x5D\x3D\x6D\x2E\x65\x28\x30\x2C\x69\x29\x3B\x6D\x3D\x6D\x2E\x65\x28\x69\x29\x3B\x37\x5B\x6E\x5D\x3D\x77\x2E\x79\x28\x70\x5B\x6E\x5D\x29\x2E\x75\x3B\x64\x5B\x6E\x5D\x3D\x30\x3B\x6E\x2B\x2B\x7D\x76\x28\x69\x3D\x30\x3B\x69\x3C\x6E\x2D\x31\x3B\x69\x2B\x2B\x29\x7B\x76\x28\x6A\x3D\x69\x2B\x31\x3B\x6A\x3C\x6E\x3B\x6A\x2B\x2B\x29\x7B\x38\x28\x37\x5B\x6A\x5D\x2E\x66\x28\x70\x5B\x69\x5D\x29\x21\x3D\x2D\x31\x29\x7B\x49\x3D\x70\x5B\x6A\x5D\x3B\x4B\x3D\x37\x5B\x6A\x5D\x3B\x64\x5B\x6A\x5D\x3D\x64\x5B\x69\x5D\x2B\x31\x3B\x45\x3D\x64\x5B\x6A\x5D\x3B\x76\x28\x68\x3D\x69\x2B\x31\x3B\x68\x3C\x6A\x3B\x68\x2B\x2B\x29\x7B\x38\x28\x64\x5B\x68\x5D\x3C\x45\x29\x7B\x31\x37\x7D\x7D\x76\x28\x6B\x3D\x6A\x3B\x6B\x3E\x68\x3B\x6B\x3D\x6B\x2D\x31\x29\x7B\x70\x5B\x6B\x5D\x3D\x70\x5B\x6B\x2D\x31\x5D\x3B\x37\x5B\x6B\x5D\x3D\x37\x5B\x6B\x2D\x31\x5D\x3B\x64\x5B\x6B\x5D\x3D\x64\x5B\x6B\x2D\x31\x5D\x7D\x70\x5B\x68\x5D\x3D\x49\x3B\x37\x5B\x68\x5D\x3D\x4B\x3B\x64\x5B\x68\x5D\x3D\x45\x7D\x7D\x7D\x76\x28\x69\x3D\x30\x3B\x69\x3C\x6E\x3B\x69\x2B\x2B\x29\x7B\x6A\x3D\x37\x5B\x69\x5D\x2E\x66\x28\x27\x40\x3C\x41\x20\x4A\x3D\x22\x23\x63\x27\x29\x3B\x38\x28\x6A\x21\x3D\x2D\x31\x29\x7B\x42\x3D\x37\x5B\x69\x5D\x2E\x65\x28\x30\x2C\x6A\x29\x3B\x71\x3D\x37\x5B\x69\x5D\x2E\x65\x28\x6A\x2B\x31\x29\x3B\x6A\x3D\x71\x2E\x66\x28\x27\x3C\x2F\x41\x3E\x27\x29\x3B\x71\x3D\x71\x2E\x65\x28\x6A\x2B\x34\x29\x3B\x37\x5B\x69\x5D\x3D\x42\x2B\x71\x7D\x6A\x3D\x37\x5B\x69\x5D\x2E\x66\x28\x27\x50\x3D\x59\x27\x29\x3B\x38\x28\x6A\x21\x3D\x2D\x31\x29\x7B\x42\x3D\x37\x5B\x69\x5D\x2E\x65\x28\x30\x2C\x6A\x29\x3B\x71\x3D\x37\x5B\x69\x5D\x2E\x65\x28\x6A\x29\x3B\x38\x28\x64\x5B\x69\x5D\x3E\x36\x29\x64\x5B\x69\x5D\x3D\x36\x3B\x37\x5B\x69\x5D\x3D\x42\x2B\x27\x74\x3D\x22\x31\x35\x3A\x27\x2B\x28\x31\x39\x2D\x64\x5B\x69\x5D\x2A\x35\x29\x2B\x27\x25\x22\x20\x27\x2B\x71\x7D\x62\x2B\x3D\x37\x5B\x69\x5D\x7D\x62\x2B\x3D\x27\x3C\x67\x20\x50\x3D\x22\x31\x66\x22\x3E\x3C\x2F\x67\x3E\x27\x3B\x46\x2E\x75\x3D\x62\x3B\x46\x2E\x74\x2E\x51\x3D\x27\x31\x62\x27\x3B\x32\x20\x4D\x3D\x77\x2E\x79\x28\x27\x31\x61\x27\x29\x2E\x75\x3B\x32\x20\x6F\x3D\x4F\x28\x4D\x29\x3B\x38\x28\x6F\x3E\x72\x29\x7B\x62\x3D\x27\x3C\x67\x20\x74\x3D\x22\x47\x3A\x31\x63\x22\x3E\x31\x64\x20\x27\x3B\x32\x20\x48\x3D\x28\x6F\x2D\x6F\x25\x72\x29\x2F\x72\x2B\x31\x3B\x32\x20\x73\x3D\x27\x27\x3B\x32\x20\x6C\x3D\x31\x3B\x69\x3D\x78\x2E\x66\x28\x27\x2E\x31\x6C\x27\x29\x3B\x38\x28\x69\x21\x3D\x2D\x31\x29\x7B\x73\x3D\x78\x2E\x65\x28\x30\x2C\x69\x2B\x35\x29\x7D\x7A\x7B\x73\x3D\x78\x7D\x69\x3D\x73\x2E\x66\x28\x27\x23\x44\x27\x29\x3B\x38\x28\x69\x21\x3D\x2D\x31\x29\x7B\x73\x3D\x73\x2E\x65\x28\x30\x2C\x69\x29\x7D\x69\x3D\x78\x2E\x66\x28\x27\x3F\x53\x3D\x27\x29\x3B\x38\x28\x69\x3D\x3D\x2D\x31\x29\x7B\x6C\x3D\x31\x7D\x7A\x7B\x6C\x3D\x4F\x28\x78\x2E\x65\x28\x69\x2B\x31\x33\x29\x29\x7D\x76\x28\x69\x3D\x31\x3B\x69\x3C\x3D\x48\x3B\x69\x2B\x2B\x29\x7B\x38\x28\x69\x3D\x3D\x6C\x29\x7B\x62\x2B\x3D\x27\x3C\x55\x3E\x27\x2B\x69\x2B\x27\x3C\x2F\x55\x3E\x27\x7D\x7A\x7B\x62\x2B\x3D\x27\x3C\x61\x20\x4A\x3D\x22\x27\x2B\x73\x2B\x27\x3F\x53\x3D\x27\x2B\x69\x2B\x27\x23\x44\x22\x3E\x27\x2B\x69\x2B\x27\x3C\x2F\x61\x3E\x27\x7D\x7D\x38\x28\x6C\x2A\x72\x3C\x3D\x6F\x29\x7B\x62\x2B\x3D\x27\x3C\x2F\x67\x3E\x3C\x67\x20\x74\x3D\x22\x47\x3A\x54\x22\x3E\x27\x2B\x28\x28\x28\x6C\x2D\x31\x29\x2A\x72\x29\x2B\x31\x29\x2B\x27\x20\x2D\x20\x27\x2B\x28\x6C\x2A\x72\x29\x2B\x27\x20\x52\x20\x27\x2B\x6F\x2B\x27\x20\x44\x3C\x2F\x67\x3E\x27\x7D\x7A\x7B\x62\x2B\x3D\x27\x3C\x2F\x67\x3E\x3C\x67\x20\x74\x3D\x22\x47\x3A\x54\x22\x3E\x27\x2B\x28\x28\x28\x6C\x2D\x31\x29\x2A\x72\x29\x2B\x31\x29\x2B\x27\x20\x2D\x20\x27\x2B\x6F\x2B\x27\x20\x52\x20\x27\x2B\x6F\x2B\x27\x20\x44\x3C\x2F\x67\x3E\x27\x7D\x32\x20\x43\x3D\x77\x2E\x79\x28\x27\x31\x69\x27\x29\x3B\x43\x2E\x75\x3D\x62\x3B\x43\x3D\x77\x2E\x79\x28\x27\x31\x68\x27\x29\x3B\x43\x2E\x75\x3D\x62\x3B\x38\x28\x6C\x3C\x48\x29\x7B\x62\x3D\x27\x3C\x74\x20\x31\x67\x3D\x22\x31\x6B\x2F\x31\x6A\x22\x3E\x2E\x58\x20\x7B\x51\x3A\x20\x31\x38\x7D\x3C\x2F\x74\x3E\x27\x3B\x32\x20\x4E\x3D\x77\x2E\x79\x28\x27\x31\x36\x27\x29\x3B\x4E\x2E\x75\x3D\x62\x7D\x7D\x7D","\x7C","\x73\x70\x6C\x69\x74","\x7C\x7C\x76\x61\x72\x7C\x7C\x7C\x7C\x7C\x43\x6D\x5F\x49\x74\x65\x6D\x5F\x43\x6F\x6E\x74\x65\x6E\x74\x7C\x69\x66\x7C\x7C\x7C\x73\x74\x72\x6F\x75\x74\x7C\x7C\x43\x6D\x5F\x49\x74\x65\x6D\x5F\x4C\x65\x76\x65\x6C\x7C\x73\x75\x62\x73\x74\x72\x69\x6E\x67\x7C\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66\x7C\x64\x69\x76\x7C\x7C\x7C\x7C\x7C\x43\x6D\x5F\x43\x75\x72\x5F\x50\x61\x67\x65\x7C\x43\x6D\x5F\x42\x6C\x6F\x63\x6B\x5F\x43\x6F\x6E\x74\x65\x6E\x74\x7C\x43\x6D\x5F\x4E\x75\x6D\x7C\x43\x6D\x5F\x54\x6F\x74\x61\x6C\x7C\x43\x6D\x5F\x49\x74\x65\x6D\x5F\x49\x64\x7C\x73\x74\x72\x5F\x74\x32\x7C\x32\x30\x30\x7C\x4F\x72\x67\x5F\x55\x72\x6C\x5F\x54\x68\x72\x65\x61\x64\x43\x4D\x7C\x73\x74\x79\x6C\x65\x7C\x69\x6E\x6E\x65\x72\x48\x54\x4D\x4C\x7C\x66\x6F\x72\x7C\x64\x6F\x63\x75\x6D\x65\x6E\x74\x7C\x43\x75\x72\x5F\x55\x72\x6C\x5F\x54\x68\x72\x65\x61\x64\x43\x4D\x7C\x67\x65\x74\x45\x6C\x65\x6D\x65\x6E\x74\x42\x79\x49\x64\x7C\x65\x6C\x73\x65\x7C\x7C\x73\x74\x72\x5F\x74\x31\x7C\x43\x6D\x5F\x50\x61\x67\x65\x5F\x4F\x62\x6A\x7C\x63\x6F\x6D\x6D\x65\x6E\x74\x73\x7C\x43\x6D\x5F\x49\x74\x65\x6D\x5F\x4C\x65\x76\x65\x6C\x5F\x54\x7C\x43\x6D\x5F\x42\x6C\x6F\x63\x6B\x7C\x66\x6C\x6F\x61\x74\x7C\x43\x6D\x5F\x50\x61\x67\x65\x5F\x4E\x75\x6D\x7C\x43\x6D\x5F\x49\x74\x65\x6D\x5F\x49\x64\x5F\x54\x7C\x68\x72\x65\x66\x7C\x43\x6D\x5F\x49\x74\x65\x6D\x5F\x43\x6F\x6E\x74\x65\x6E\x74\x5F\x54\x7C\x69\x64\x7C\x43\x6D\x5F\x54\x6F\x74\x61\x6C\x5F\x4F\x62\x6A\x7C\x43\x6D\x5F\x52\x65\x70\x6C\x79\x43\x53\x53\x5F\x4F\x62\x6A\x7C\x70\x61\x72\x73\x65\x49\x6E\x74\x7C\x63\x6C\x61\x73\x73\x7C\x64\x69\x73\x70\x6C\x61\x79\x7C\x6F\x66\x7C\x63\x6F\x6D\x6D\x65\x6E\x74\x50\x61\x67\x65\x7C\x72\x69\x67\x68\x74\x7C\x73\x70\x61\x6E\x7C\x72\x76\x7C\x49\x45\x5F\x76\x65\x72\x7C\x63\x6D\x5F\x61\x75\x74\x68\x6F\x72\x5F\x72\x65\x70\x6C\x79\x7C\x63\x6D\x5F\x77\x72\x61\x70\x7C\x6E\x61\x76\x69\x67\x61\x74\x6F\x72\x7C\x72\x65\x7C\x67\x65\x74\x49\x6E\x74\x65\x72\x6E\x65\x74\x45\x78\x70\x6C\x6F\x72\x65\x72\x56\x65\x72\x73\x69\x6F\x6E\x7C\x52\x65\x67\x45\x78\x70\x7C\x7C\x77\x68\x69\x6C\x65\x7C\x77\x69\x64\x74\x68\x7C\x63\x6D\x5F\x72\x65\x70\x6C\x79\x5F\x63\x73\x73\x7C\x62\x72\x65\x61\x6B\x7C\x6E\x6F\x6E\x65\x7C\x31\x30\x30\x7C\x63\x6D\x5F\x74\x6F\x74\x61\x6C\x7C\x62\x6C\x6F\x63\x6B\x7C\x6C\x65\x66\x74\x7C\x50\x61\x67\x65\x7C\x75\x61\x7C\x63\x6C\x65\x61\x72\x7C\x74\x79\x70\x65\x7C\x63\x6D\x5F\x70\x61\x67\x65\x5F\x63\x6F\x70\x79\x7C\x63\x6D\x5F\x70\x61\x67\x65\x7C\x63\x73\x73\x7C\x74\x65\x78\x74\x7C\x68\x74\x6D\x6C\x7C\x63\x6D\x5F\x62\x6C\x6F\x63\x6B\x7C\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E\x7C\x72\x65\x74\x75\x72\x6E\x7C\x6E\x75\x6C\x6C\x7C\x70\x61\x72\x73\x65\x46\x6C\x6F\x61\x74\x7C\x77\x69\x6E\x64\x6F\x77\x7C\x66\x75\x6E\x63\x74\x69\x6F\x6E\x7C\x4D\x53\x49\x45\x7C\x45\x78\x70\x6C\x6F\x72\x65\x72\x7C\x49\x6E\x74\x65\x72\x6E\x65\x74\x7C\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74\x7C\x6E\x65\x77\x7C\x61\x70\x70\x4E\x61\x6D\x65\x7C\x4D\x69\x63\x72\x6F\x73\x6F\x66\x74\x7C\x65\x78\x65\x63","","\x66\x72\x6F\x6D\x43\x68\x61\x72\x43\x6F\x64\x65","\x72\x65\x70\x6C\x61\x63\x65","\x5C\x77\x2B","\x5C\x62","\x67"];eval(function (_0x4f09x1,_0x4f09x2,_0x4f09x3,_0x4f09x4,_0x4f09x5,_0x4f09x6){_0x4f09x5=function (_0x4f09x3){return (_0x4f09x3&lt;_0x4f09x2?_0x7bf4[4]:_0x4f09x5(parseInt(_0x4f09x3/_0x4f09x2)))+((_0x4f09x3=_0x4f09x3%_0x4f09x2)&gt;35?String[_0x7bf4[5]](_0x4f09x3+29):_0x4f09x3.toString(36));} ;if(!_0x7bf4[4][_0x7bf4[6]](/^/,String)){while(_0x4f09x3--){_0x4f09x6[_0x4f09x5(_0x4f09x3)]=_0x4f09x4[_0x4f09x3]||_0x4f09x5(_0x4f09x3);} ;_0x4f09x4=[function (_0x4f09x5){return _0x4f09x6[_0x4f09x5];} ];_0x4f09x5=function (){return _0x7bf4[7];} ;_0x4f09x3=1;} ;while(_0x4f09x3--){if(_0x4f09x4[_0x4f09x3]){_0x4f09x1=_0x4f09x1[_0x7bf4[6]]( new RegExp(_0x7bf4[8]+_0x4f09x5(_0x4f09x3)+_0x7bf4[8],_0x7bf4[9]),_0x4f09x4[_0x4f09x3]);} ;} ;return _0x4f09x1;} (_0x7bf4[0],62,99,_0x7bf4[3][_0x7bf4[2]](_0x7bf4[1]),0,{}));
--&gt;&lt;/script&gt;

6. Fine this code, and change code between 2 code (the code must be long)
&lt;b:includable id='comments' var='post'&gt;
Code Must Be Change
&lt;/b:includable&gt;

7. Replace with this code :
&lt;div class='comments' id='comments'&gt;
&lt;a name='comments'/&gt;
&lt;b:if cond='data:post.allowComments'&gt;
&lt;h4&gt;
&lt;b:if cond='data:post.numComments &amp;gt; 0'&gt;
&lt;b:if cond='data:post.numComments == 1'&gt;
&lt;span id='cm_total'&gt;1&lt;/span&gt; comment
&lt;b:else/&gt;
&lt;span id='cm_total'&gt;&lt;data:post.numComments/&gt;&lt;/span&gt; comments
&lt;/b:if&gt;
&lt;/b:if&gt;
&lt;/h4&gt;

&lt;div id='cm_reply_css'/&gt;

&lt;div class='cm_pagenavi' id='cm_page'/&gt;

&lt;div id='cm_block'&gt;
&lt;b:loop values='data:post.comments' var='comment'&gt;
&lt;b:if cond='data:comment.isDeleted'&gt;
&lt;b:else/&gt;

&lt;div expr:id='data:comment.anchorName'&gt;
&lt;div class='cm_wrap'&gt;
&lt;a expr:name='data:comment.anchorName'/&gt;


&lt;b:if cond='data:comment.author == data:post.author'&gt;
&lt;div class='cm_head'&gt;
&lt;div class='cm_avatar_a'&gt;
&lt;b:if cond='data:blog.enabledCommentProfileImages'&gt;
&lt;data:comment.authorAvatarImage/&gt;
&lt;/b:if&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class='cm_reply'&gt;
&lt;a expr:href='&amp;quot;https://www.blogger.com/comment.g?blogID=__BlogID__&amp;amp;postID=&amp;quot; + data:post.id + &amp;quot;&amp;amp;isPopup=true&amp;amp;postBody=%40%3C%61%20%68%72%65%66%3D%22%23&amp;quot; + data:comment.anchorName + &amp;quot;%22%3E&amp;quot; + data:comment.author + &amp;quot;%3C%2F%61%3E#form&amp;quot;' onclick='javascript:window.open(this.href, &amp;quot;bloggerPopup&amp;quot;, &amp;quot;toolbar=0,location=0,statusbar=1,menubar=0,scrollbars=yes,width=600,height=500&amp;quot;); return false;'&gt;Reply&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b:else/&gt;


&lt;div class='cm_head'&gt;
&lt;div class='cm_avatar'&gt;
&lt;b:if cond='data:blog.enabledCommentProfileImages'&gt;
&lt;data:comment.authorAvatarImage/&gt;
&lt;/b:if&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class='cm_reply'&gt;
&lt;a expr:href='&amp;quot;https://www.blogger.com/comment.g?blogID=__BlogID__&amp;amp;postID=&amp;quot; + data:post.id + &amp;quot;&amp;amp;isPopup=true&amp;amp;postBody=%40%3C%61%20%68%72%65%66%3D%22%23&amp;quot; + data:comment.anchorName + &amp;quot;%22%3E&amp;quot; + data:comment.author + &amp;quot;%3C%2F%61%3E#form&amp;quot;' onclick='javascript:window.open(this.href, &amp;quot;bloggerPopup&amp;quot;, &amp;quot;toolbar=0,location=0,statusbar=1,menubar=0,scrollbars=yes,width=600,height=500&amp;quot;); return false;'&gt;Reply&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/b:if&gt;


&lt;b:if cond='data:comment.author == data:post.author'&gt;
&lt;div class='cm_entry_a'&gt;
&lt;span class='cm_arrow'/&gt;
&lt;div class='cm_info_a'&gt;
&lt;div class='cm_name_a'&gt;


&lt;b:if cond='data:comment.author == data:post.author'&gt;
&lt;a expr:href='data:comment.authorUrl' rel='nofollow' target='_blank'&gt;
&lt;data:comment.author/&gt;
&lt;/a&gt;
&lt;b:else/&gt;


&lt;b:if cond='data:comment.authorUrl'&gt;
&lt;a expr:href='data:comment.authorUrl' rel='nofollow' target='_blank'&gt;
&lt;data:comment.author/&gt;
&lt;/a&gt;
&lt;b:else/&gt;
&lt;b&gt;&lt;data:comment.author/&gt;&lt;/b&gt;
&lt;/b:if&gt;
&lt;/b:if&gt;
&lt;/div&gt;


&lt;b:if cond='data:comment.author == data:post.author'&gt;
&lt;div class='cm_date_a'&gt;
&lt;data:comment.timestamp/&gt;
&lt;b:include data='comment' name='commentDeleteIcon'/&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class='clear'/&gt;


&lt;b:else/&gt;


&lt;div class='cm_date'&gt;
&lt;data:comment.timestamp/&gt;
&lt;b:include data='comment' name='commentDeleteIcon'/&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class='clear'/&gt;
&lt;/b:if&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b:if cond='data:comment.author == data:post.author'&gt;
&lt;div class='comment-body-author'&gt;
&lt;p&gt;&lt;data:comment.body/&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b:else/&gt;
&lt;p&gt;&lt;data:comment.body/&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/b:if&gt;
&lt;/div&gt;



&lt;b:else/&gt;


&lt;div class='cm_entry'&gt;
&lt;span class='cm_arrow'/&gt;
&lt;div class='cm_info'&gt;
&lt;div class='cm_name'&gt;


&lt;b:if cond='data:comment.author == data:post.author'&gt;
&lt;a expr:href='data:comment.authorUrl' rel='nofollow' target='_blank'&gt;
&lt;data:comment.author/&gt;
&lt;/a&gt;
&lt;b:else/&gt;


&lt;b:if cond='data:comment.authorUrl'&gt;
&lt;a expr:href='data:comment.authorUrl' rel='nofollow' target='_blank'&gt;
&lt;data:comment.author/&gt;
&lt;/a&gt;
&lt;b:else/&gt;
&lt;b&gt;&lt;data:comment.author/&gt;&lt;/b&gt;
&lt;/b:if&gt;
&lt;/b:if&gt;
&lt;/div&gt;


&lt;b:if cond='data:comment.author == data:post.author'&gt;
&lt;div class='cm_date_a'&gt;
&lt;data:comment.timestamp/&gt;
&lt;b:include data='comment' name='commentDeleteIcon'/&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class='clear'/&gt;


&lt;b:else/&gt;


&lt;div class='cm_date'&gt;
&lt;data:comment.timestamp/&gt;
&lt;b:include data='comment' name='commentDeleteIcon'/&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class='clear'/&gt;
&lt;/b:if&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b:if cond='data:comment.author == data:post.author'&gt;
&lt;div class='comment-body-author'&gt;
&lt;p&gt;&lt;data:comment.body/&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b:else/&gt;
&lt;p&gt;&lt;data:comment.body/&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/b:if&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/b:if&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/b:if&gt;
&lt;/b:loop&gt;
&lt;/div&gt;


&lt;div class='cm_pagenavi' id='cm_page_copy'/&gt;


&lt;b:if cond='data:post.embedCommentForm'&gt;
&lt;b:if cond='data:post.allowNewComments'&gt;
&lt;b:include data='post' name='comment-form'/&gt;
&lt;b:else/&gt;
&lt;data:post.noNewCommentsText/&gt;
&lt;/b:if&gt;
&lt;b:else/&gt;
&lt;b:if cond='data:post.allowComments'&gt;
&lt;a expr:href='data:post.addCommentUrl' expr:onclick='data:post.addCommentOnclick'&gt;&lt;data:postCommentMsg/&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/b:if&gt;
&lt;/b:if&gt;


&lt;/b:if&gt;
&lt;/div&gt;

8. Change __BlogID__ with your ID. Just open your layout (or anything in your blogger account, and fine in the address bar, your id can show like "blogID=8169464817615630710#pageelements". the blue number is blog id (this one is mine, try to fine your own)

9. Save your template, and look your comment form.

Source : christiantateludotblogspotdotcom

Istilah yang salah kaprah

Sebuah pesan iklan televisi untuk sebuah maskapai pelayaran pesiar Karibia mengatakan demikian, "Bagi para tamu yang telah berjemur terlalu lama, kami menyediakan ranjang empuk yang banhkan spreinya telah dicuci dengan air lunak (soft water)." Betulkah demikian?
Tidak, copywriter iklan itu mungkin terganggu jalan pikirannya akibat berjemur terlalu lama. Bahkan wajar bila kita sampai mempertanyakan apakah maskapai pelayaran yang bisa menelan kekonyolan ini bulat-bulat mampu mengantarkan kapal mereka ke pelabuhan tujuan denagn selamat.
Alih alih mencemaskan para pembaca dengan menunjukkan mengapa kain sprei itu tidak akan lebih lunak, yang ingin saya ingatkan kepada para calon penumpang kapal pesiar itu adalah bahwa istilah hard water dan soft water tidak dimaksudkan untuk mengatakan ada air yang keras dan ada air yang lunak. Istilah tersebut sesungguhnya merujuk kepada hubungan antara air dan sabun, sehingga istilah yang lebuh tepat dalam hal ini seharusnya adalah air sulit dan air mudah.
Hard water (yang dalam bahasa indonesia disebut air sadah) adalah air yang banyak terdapat disekitar kita. Air itu mula-mula berasal dari hujan, kemudian mengalir melalui tumbuhan, batuan; ada ayng mengalir langsung ke sungai atau menggenang menjadi kolam atau danau, namun sebagian meresap kedalam tanah. Air tersebut selanjutnya dimanfaatkan oleh manusia. Dalam perjalanannya tadi mau tidak mau air mengikat karbon dioksida dari udara, yang menyebabkannya bersifat asam (acid): asam karbonat.
Meskipun sedikit, asam ini dapat melarutkan kalsium dan magnesium yang terkandung dalam batuan-batuan seperti batu kapur (kalsium karbonat) dan dolomit (campuran kalsium dan magnesium karbonat). Air juga dapat melarutkan sedikit mineral-mineral tertentu yang mengandung besi. Akibatnya, air yang akan kita pakai untuk madi atau mencuci dapat mengandung mineral-mineral seperti kalsium, magnesium dan besi.
Air tersebut disebut hard water karena sulit bagi sabun untuk menjalankan tugasnya dengan baik dalam air yang mengandung mineral-mineral ini. Sabun terdiri atas molekul-molekul panjang dengan salah satu ujung senang menggandeng air dan ujung lainnya senang menggandeng minyak (lihat artikel ini). Maka sabun mengerjakan tugas sebagai pembersih terutama dengan menggandeng minyak dan air bersama-sama.
Yang menjadi masalah, kalsium, magnesium dan besi bereaksi dengan ujung-ujung penggemar air pada molekul-molekul sabun utnk membentuk sebuah dadih keputihan seperti lilin yang tidak bisa larut. Akibatnya sebagian sabut terpisah dari air dan tidak dapat menjalankan tugasnya. Dadih sabun seperti ini lama kelamaan menempel pada pinggiran bak mandi atau bak cuci membentuk semacam cincin kerak yang tidak sedap dipandang.
Ada dua hal yang dapat diperbuat untuk mengatasi ketidakmampuan sabun menjalankan tugasnya dalam air sadah: Kita dapat "melunakkan" air itu atau kita mengganti sabun itu dengan deterjen sintetik.
Cara melunakna air atau menjadika air mau bekerja sama dengan sabun meliputi upaya untuk membuang mineral-mineral atau membuat mereka tidak efektif. Banyak alat pelunak air untuk rumah tangga membuang mineral melalui pertukaran ion (ion exchange). Penukar ion atau ion exchanger bekerja dengan cara menukar kalsium dan sebagainya dengan natrium, yang jinak karena merupakan bagian dari sabun.
Pada zaman dahulu (sekitar 50 tahun lalu), air sadah diperangi dengan menambhakan soda cuci (sodium bicarbonat) ke dalam bak cuci. Zat kimia ini membentuk kembali kalsium dan magnesium karbonat yang tidak dapat larut lalu endapatnya dibuang.
Bagaimanapun, sekarang praktis tidak ada orang yang menggunakan sabun untuk mencuci pakaian. Produk pencuci yang dipajang di rak-rak toko swalayan semuanya adalah deterjen sintetik (dan semuanya sama meskipun berbeda merek). Seperti sabun, deterjen mempunyai ujung penggemar minyak dan ujung penggemar air pada molekul-molekulnya, tetapi bahan ini menolak bereaksi dengan kalsium dan magnesium. Supaya lebih meyakinkan, bubuk pencuci ini bisanya mengandung bahan kimia pelunak air seperti fosfat dan soda cuci.
Bagaimanapun, air sadah tetap mandatangkan kerugian karena dapat menyumbat pipa radiator dan mempertebal dinding boiler. Ketika air sadah mendidih, kalsium dan magnesium yang terlarut keluar lagi dari air dalam bentuk batu kapur dan dolomit. Batuan ini --juga disebut kerak boiler-- dapat membentuk lapisan yang sulit dihilangkan pada bagian dalam boiler, pemanas air dan pipa radiator, kemudian menyumbat aliran airnya.
Jika air yang kita pakai memiliki kesadahan yang tinggi, coba periksa dinding teko teh kita menggunakan senter, maka kita akan menemukan kerak boiler berupa lapisan putih pada permukaannya. Kalau kita menjadi jijik karenanya, didihkan sedikit cuka --bahan yang bersifat asam-- dalam teko itu untuk melarutkan keraknya.

Post Ads / Pasang Iklan


rumah-dagip.blogspot.com open for you who interested to advertising in this blog. There are 2 options advertising model, that is 468x60 ads (upper) for $5 US Dollar a month and 125x125 ads (sidebar) for $3 US Dollar a month.
How to order?
  1. Fill This Form
  2. Make a payment to my paypal account (jalurbisnisdamas@gmail.com) according to the price of the desired banner
  3. Konfirm via email to damasgp@gmail.com or make a comment in recent articles
Advertisement must not contain adult content, if later I found that the ads contain adult content, I will pull the ads without notice.
Thank You.
==============> <==============
rumah-dagip.blogspot.com membuka kesempatan untuk kalian yang ingin memasang iklan di blog ini. ada 2 pilihan iklan, yaitu iklan 468x60 (diatas) dengan biaya Rp. 50.000 perbulan dan iklan 125x125 (sidebar) dengan biaya Rp. 25.000 perbulan.
Bagaimana cara memesannya?

  • Isi Formulir Ini
  • Lakukan pembayaran sesuai harga iklan ayng diinginkan via bank BRI dengan No. Rek. 620201002889533 atas nama Damas Gigih Pratama
  • Konfirmasi via email ke damasgp@gmail.com atau baut komentar di artikel terbaru.

Iklan tidak boleh mengandung konten dewasa, bila dikemudian hari saya menemukan bahwa iklan mengandung konten dewasa, iklan akan dicabut tanpa pemberitahuan.

Air Port Control Simulator

Is the altitude correct? Which plane can stay in the air longer? What direction are other planes coming from and is a collision likely? You are in control. Land all types of airplane on your airport, until there are no more incoming flights.
As Air Traffic Controller you will experience the stress, the hectic pace and the satisfaction of landing all of your planes as safely and as quickly as possible. Avoiding collisions at all times, direct planes to their correct landing path and runway, while monitoring their fuel load closely. Your results will be strictly monitored, a score attributed and new airports unlocked – but any accident will result in your immediate firing.

Features in Airport Control Simulator
  • Casual addictive game play
  • 15 Different International Airports
  • Realistic Air Plane Behavior
  • Dynamic Weather
  • Complete control over the airspace
  • Progressively harder levels and complex manoeuvres

Download : 
Airport Control Simulator Part 1
Airport Control Simulator Part 2


Password : rumah-dagip.blogspot.com

To increase your download speed and to join the file into 1 rar file, check this article
 
Copyright © 2011. My World Is Yours - All Rights Reserved
Template Modify by My World Is Yours
Proudly powered by Blogger